Rabu, 26 Juni 2013

Mengunjungi Dua Kampung Islam di Bali

(Original Version)


Awal masuknya Islam dibali tidak dapat dilepaskan dari dua kampung Islam yang menjadi tombak sejarah Islam di Bali, yaitu Kampung Lebah, dan Kampung Kecicang Islam.


Bali terkenal sebagai kota wisata. Hampir wisatawan lokal maupun mancanegara datang berkunjung untuk menikmati berbagai keindahan dan adat istiadat yang menjadi daya tarik tersendiri. Sebagian besar penduduk Bali beragama Hindu. Nuansa agama Hindu sangat kental di pulau ini, namun dibalik kentalnya agama Hindu, terdapat beberapa kampung Islam yang berkembang pesat di Pulau Seribu Pura ini, meskipun hanya menjadi penduduk mayoritas kedua, namun Islam di Bali menghadirkan keragaman bagi pulau dewata ini. Sejarah masuknya agama Islam di bukan hal baru terjadi, namun sudah sejak masa kerajaan dahulu. Ada beberapa kampung muslim yang berada di Bali, salah satunya Kampung Lebah dan Kampung Kecicang. Dua kampung Islam yang mempunyai keunikan tersendiri. Istilah kata “Kampung’’ di kawasan Bali identik dengan pemukiman Muslim.



Kampung Lebah

Kampung Islam yang beralamat di Kelurahan Semarapura, Kabupaten Klungkung, Bali, tepatnya di sepanjang Jalan Diponegoro adalah salah satu tombak sejarah masuknya Islam di Bali. Di Pulau Dewata sendiri, sejarah Pertama kali masuknya islam berada di kawasan Klungkung, tepatnya di kampung Gelgel. Pada abad ke 16, beberapa utusan dari kerajaan Majapahit hijrah ke Bali dengan tujuan untuk mengislamkan Raja Klungkung, namun niat itu tidak berhasil. Hubungan baik dengan Kerajaan Majapahit menuntut Raja Klungkung untuk mempersilahkan utusan Majapahit tersebut tinggal di Gelgel Klungkung. Dari sana Islam di Klungkung mulai berkembang turun temurun. Masyarakat bermata pencaharian tetap, memilih tinggal di Gelgel dan yang berdagang memilih mendirikan perkampungan sendiri. Kampung itu dikenal dengan nama Kampung Lebah.

Nuansa Islam: Suasana Kampung Lebah di malam hari

Menurut H. Safwin Azrai tokoh masyarakat setempat, Kampung Lebah berasal dari kata Lembah, disebabkan kampung ini berada di dataran yang lebih tinggi dari jalan Semarapura.” Dulunya di sini lembah sebelum dibuat perkampungan seperti ini” tuturnya. Sedangkan menurut H. Abdullah Azrai, nama Kampung Lebah bisa diambil dari filosofi hewan lebah (tawon). Menurutnya Islam bisa dianalogikan dengan lebah yang menanamkan nilai-nilai kebaikan. Lebah menghasilkan madu yang mempunyai banyak khasiat untuk kesehatan. “lebah itu kan selalu terbang dan hinggap di bunga tetapi tidak sampai merusaknya, lebah juga menghasilkan madu yang dapat digunakan untuk obat”. Ujarnya.

Kampung Lebah berpenduduk sekitar 400 kepala keluarga dan sebagian besar dari mereka bermata pencaharian sebagai pedagang. Sebagian dari mereka memilih berdagang ke luar kota, dan sisanya lagi memilih berdagang di sekitar kampung mereka. “Dulu di sepanjang jalan raya ini terlihat seperti lembah karena masih belum ada yang menempati, tetapi sekarang kebutuhan menuntut warga sini mendirikan tempat usaha di sepanjang jalan” tutur H. Safwin Azrai. Untuk mendukung aktifitas peribadatan masyarakat, di kampung ini telah berdiri 5 mushola dan 1 Masjid Al Hikmah. Terkait dengan pendirian tempat ibadah di kampung ini tidak mengalamai masalah, karena di Kampung Lebah keseluruhan penduduknya beragama Islam. Beberapa sekolah Islam juga didirikan di kampung ini dengan tujuan memfasilitasi anak-anak mengenyam pendidikan bernuansa Islam sejak dini agar nantinya menjadi manusia yang berakhlakul karimah. Diantaranya adalah Yayasan Hasanuddin yang menaungi Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah Hasanuddin dan Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal. selain itu juga ada Taman Kanak-kanak bernuansa Islam dan Pendidikan At Khair Muhammadiyah. Tanpa harus melupakan identitas sebagai umat Islam yang tinggal di Indonesia, masyarakat Kampung Lebah masih tetap melestarikan kesenian-kesenian Islam khas Nusantara, diantaranya adalah Tari Rudat, Samrah untuk ibu-ibu, Kosidah dan lainnya.

Sebagai pemeluk agama mayoritas kedua di Bali, masyarakat Kampung Lebah sangat memahami akan pentingnya toleransi antar umat beragama. Hubungan mereka dengan pemeluk agama lain sejauh ini cukup harmonis. Menurut H. Safwin Azrai yang juga aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ini, apabila sebelumnya sempat terjadi gesekan lebih disebabkan oleh ulah anak-anak muda yang sedang mencari jati diri dan pengakuan dari masyarakat. Beberapa tahun lalu sempat terjadi keributan ketika takbiran keliling, mungkin karena ulah beberapa anak-anak muda” tuturnya. Demi menjaga terjalinnya kerukunan antar umat beragama, saat ini malam takbiran lebih dipusatkan di masjid dan mushola yang berlokasi di Kampung Lebah sendiri. Bentuk lain dari toleransi kampung ini adalah ketika Nyepi mereka tidak menggunakan pengeras suara saat mengumandangkan adzan. Masyarakat Kampung Lebah lebih mengedepankan toleransi antar umat beragama karena sesungguhnya Islam itu sendiri telah mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar bagi umatnya.

Kecicang Islam

Kampung Kecicang Islam yang berada di kawasan Banjar Dinas Kecicang Islam, Desa Bungayan Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem adalah sebuah kampung Islam terbesar di Kabupaten Karangasem dengan penduduk mencapai 3.402 kepala keluarga. Kampung ini berbatasan dengan Banjar Kecicang Bali di sebelah barat daya, Banjar Triwangsa di sebelah barat dan di selatan berbatasan dengan Banjar Subagan. Menurut Hasmini Kepala Dusun Kecicang Islam, penduduk kampung ini dulunya adalah penduduk Tohpati Buda Keling. Setelah sang raja meninggal, raja baru memindahkan penduduknya ke Kecicang dan Tohpati kota dengan cara babad alas (membuka hutan), “Dulunya di sini alas (hutan) bukan kampung seperti ini” ujarnya. Sedangkan nama kecicang sendiri diambil dari nama bunga berwarna putih yang biasa dimasak oleh masyarakat setempat. Selain itu Muriham Effendi salah satu tokoh masyarakat setempat menyebut kecicang berasal dari nama incang-incangan yang berarti saling mencari ketika perang pada jaman kerajaan dulu. Sedangkan tambahan nama Islam di belakang nama kecicang untuk memberikan penegasan tentang kampung Islam.

Muriham Effendi menuturkan bahwa masyarakat Kecicang Islam keseluruhan adalah Muslim. Selain penduduk asli, di kampung ini juga terdapat beberapa pendatang dari Jawa Timur, dan lombok. Mata pencaharian masyarakat kecicang sebagian besar adalah pedagang, petani dan sebagian lainnya memilih merantau ke luar Kecicang. Bukti bahwa kampung ini adalah kampung Islam adalah dengan berdirinya Masjid Baiturrahman yang diperkirakan sejak akhir abad 17. Saat ini masjid tersebut dalam proses renovasi sejak 8 tahun lalu dan tak kunjung selesai. Rencananya masjid ini akan diperbesar dengan bangunan tiga lantai, disebabkan penduduk Kecicang yang setiap tahunnya semakin bertambah. Masyarakat saling bergotong royong bergantian untuk partisipasi dalam pembangunan masjid. Gotong royong tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Kecicang memiliki solidaritas yang tinggi, tidak terlihat perbedaan diantara mereka. Selain masjid, kampung ini memiliki 6 mushola untuk menunjang kegiatan peribadatan.
Solidaritas: Warga Kampung Kecicang bergotong royong membangun masjid


Dalam hal penyediaan fasilitas pendidikan terdapat beberapa sekolah Islam, diantaranya adalah PAUD Tunas Sejahtera, RA Al-Ma’un, MIN Bungayan Kangin dan MTs Ma’arif. Kesenian bernafaskan Islam yang menjadi kearifan lokal tetap dilestarikan di kampung ini, diantaranya adalah kesenian Tari Rudat hasil dari proses akulturasi budaya Hindu dengan budaya Islam dari Timur Tengah, Kosidah dan Albanjari. Upacara-upacara keagamaan seperti pengajian, tahlilan, selamatan, ziarah juga masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Kecicang. Selain menguatkan akidah keislaman, kegiatan-kegiatan tersebut juga berfungsi untuk meningkatkan solidaritas sesama masyarakat. “Dengan adanya kegiatan seperti itu, masyarakat jadi lebih rukun karena sering bertemu” ujar Muriham. Tingkat religiulitas masyarakat Kecicang yang cukup tinggi terhadap Islam, Kampung ini pernah mendatangkan ustadz ternama yang datang untuk memberikan tausiyah diantaranya adalah KH. Zainuddin MZ, ustadz Taufiq Rahman dan lainnya.

Disisi lain hubungan masyarakat Kecicang Islam dengan masyarakat Bali lainnya cukup harmonis. Menurut Hasmini apabila masyarakat Bali dari Banjar tetangga mengadakan acara hajatan, masyarakat Kecicang turut diundang, begitu sebaliknya. Begitu pula ketika upacara-upacara besar keagamaan, semisal ketika solat Idul Fitri di Kampung Kecicang Islam dijaga oleh pecalang keamanan dari komunitas Hindu. Sebaliknya apabila umat Hindu merayakan upacara keagamaan seperti Nyepi, maka masyarakat Muslim Kecicang turut mengamankan. Toleransi antar umat beragama tetap ditekankan di kampung ini, karena sesungguhnya Islam sendiri adalah agama Rahmatan Lil Alamin. (lw)


4 komentar:

Yudi Bachtiar mengatakan...

saya akan ke Bali, menetap di sana, dan memberikan karya terbaik saya untuk dunia. InsyaAllah..

Afid Bilqisti mengatakan...

Kemarin saya baru aja pulang dari Bali :D susah cari masjid, saya di Denpasar

edy prasetyo mengatakan...

Iya di denpasar sumpah susah bingit nyari mesjid....

singgih nurtomo mengatakan...

kalo mussholla masih banyak koq... di denpasar

Posting Komentar

lugaswicaksono.blogspot.com
 
;